Samsung: Keamanan Adalah Kunci Utama Agar AI Diterima dan Digunakan Secara Luas

Kecerdasan buatan (AI) kini semakin merasuk ke dalam kehidupan sehari-hari, bertransformasi dari sekadar fitur tambahan menjadi sistem yang mampu mengatur rutinitas, memahami kebiasaan pengguna, dan bekerja secara otomatis di berbagai perangkat. Dalam lanskap yang berkembang pesat ini, Samsung menegaskan posisinya bahwa keamanan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan prasyarat fundamental agar AI dapat diterima dan diadopsi secara luas oleh masyarakat.

Poin-Poin Penting

  • Samsung memprioritaskan keamanan sebagai fondasi utama untuk penerimaan dan penggunaan AI secara luas, bukan sebagai lapisan tambahan.
  • Konsep ‘trust-by-design’ menekankan transparansi, kontrol pengguna, dan prediktabilitas perilaku AI.
  • Strategi AI on-device Samsung bertujuan untuk meminimalkan pemrosesan data pribadi di cloud demi menjaga privasi.
  • Samsung Knox dan Knox Matrix menjadi pilar keamanan yang melindungi ekosistem perangkat dari tingkat chipset hingga interkoneksi antarperangkat.
  • Keamanan AI tidak hanya teknis, tetapi juga mencakup kejelasan fungsi dan perilaku untuk membangun kepercayaan pengguna.

Keamanan Sebagai Fondasi: Bukan Sekadar Lapisan Tambahan

Dalam forum Samsung Tech Forum di CES 2026, perusahaan menggarisbawahi bahwa kepercayaan pengguna terhadap AI tidak dibangun dari klaim pemasaran semata. Sebaliknya, kepercayaan tersebut lahir dari sistem yang terbukti aman, transparan, dan memberikan kontrol yang memadai kepada pengguna. Pendekatan ini menempatkan keamanan sebagai elemen inti sejak awal perancangan (foundation), bukan sekadar ditambahkan di tahap akhir.

Trust-by-Design: Transparansi dan Kontrol Penuh di Tangan Pengguna

Samsung mengusung konsep ‘trust-by-design’, sebuah filosofi di mana AI dirancang agar sepenuhnya dapat dipahami dan diprediksi oleh penggunanya. Transparansi menjadi aspek krusial, mulai dari kejelasan di mana data pengguna diproses hingga penandaan fitur mana saja yang benar-benar memanfaatkan AI. Tujuannya adalah untuk menghindari persepsi AI sebagai sistem ‘kotak hitam’ yang misterius. Dengan memberikan kontrol yang jelas, Samsung berupaya memastikan bahwa pengguna tetap menjadi pengambil keputusan utama dalam interaksi mereka dengan teknologi AI, bukan sekadar menjadi objek dari proses otomatis.

AI On-Device: Strategi Kunci untuk Menjaga Privasi

Salah satu pilar strategi Samsung dalam menjaga keamanan dan privasi pengguna adalah dengan memprioritaskan pemrosesan AI secara ‘on-device’. Artinya, data pribadi pengguna akan diproses langsung di perangkat sebisa mungkin. Pemrosesan berbasis cloud memang masih akan digunakan, namun secara selektif dan hanya ketika performa atau skala pemrosesan yang lebih besar sangat dibutuhkan. Strategi ini mencerminkan upaya Samsung untuk menyeimbangkan antara inovasi teknologi AI yang canggih dengan perlindungan privasi pengguna yang ketat. Dengan meminimalkan perpindahan data pribadi ke server cloud, risiko kebocoran dan penyalahgunaan data dapat ditekan sejak dini.

Knox dan Knox Matrix: Keamanan yang Meluas di Seluruh Ekosistem

Seiring dengan hadirnya AI di berbagai lini perangkat Samsung, mulai dari ponsel pintar, televisi, perangkat wearable, hingga peralatan rumah tangga, Samsung menyadari bahwa keamanan tidak lagi dapat ditangani secara terisolasi. Samsung Knox telah lama menjadi fondasi keamanan berlapis yang melindungi perangkat dari tingkat chipset hingga sistem operasi. Kini, Knox Matrix memperluas cakupan perlindungan ini ke level ekosistem. Melalui Knox Matrix, perangkat dalam ekosistem Samsung akan saling mengautentikasi dan memantau satu sama lain. Setiap perangkat berperan sebagai bagian integral dari sistem pertahanan kolektif, memastikan bahwa kerentanan pada satu titik tidak akan serta-merta membahayakan keseluruhan ekosistem.

Menjawab Tantangan Misinformasi dan Potensi Penyalahgunaan AI

Samsung juga secara proaktif menyoroti berbagai risiko yang melekat pada teknologi AI, termasuk potensi penyebaran misinformasi dan penyalahgunaan. Perusahaan berpendapat bahwa solusi untuk mengatasi risiko-risiko ini justru harus dibangun melalui penerapan teknologi yang lebih aman dan terkontrol. Keamanan dalam konteks AI tidak hanya merujuk pada aspek teknis, tetapi juga mencakup kejelasan fungsi dan perilaku AI itu sendiri. AI yang aman harus mampu beroperasi secara konsisten, dapat diprediksi, dan mudah dipahami oleh pengguna, sehingga tidak menimbulkan rasa kehilangan kendali.

Kenyamanan Tanpa Mengorbankan Kepercayaan

Diskusi dalam CES 2026 juga menyinggung realitas perilaku konsumen: kenyamanan tetap menjadi faktor penentu utama dalam adopsi teknologi baru. Namun, Samsung menekankan bahwa tanpa adanya rasa aman dan kepercayaan, kenyamanan yang ditawarkan teknologi AI tidak akan bertahan lama. Oleh karena itu, Samsung memosisikan keamanan sebagai elemen esensial yang memungkinkan AI tetap memberikan manfaat praktis dan kenyamanan maksimal tanpa harus mengorbankan kepercayaan mendasar pengguna.

Tinggalkan komentar

ID | EN
Repiw